Jumat, 15 Maret 2013

Tafsir Ayat Hubungan Antar Agama



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Sebagaimana yang diketahui, bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Hal itu dapat dibuktikan dari berbagai macam keanekaragaman budaya yang dimili oleh bangsa Indonesia. Keanekaragaman tersebut antara lain meliputi, suku, bangsa, bahasa, ras, termasuk didalamnya agama. Keanekaragaman ini ibarat dua sisi mata pedang, disisi lain ia bisa menjadi aset berharga untuk bangsa Indonesia, namun disisi lain, ia justru bisa ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di Indonesia tak jarang peristiwa-peristiwa anarkis muncul akibat perbedaan-perbedaan tersebut. Seperti konflik-konflik dalam beragaman seringkali diselesaikan yang tidak dewasa dan rentan terhadap sikap anarkisme. Disinilah letak peran pentingnya letak ajaran agama sebagai kontrol sosial terhadap berbagai fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Agama Islam khususnya melalui kitab sucinya Alquran telah mengatur pola hubungan antarumat beragama, seperti yang akan dijelaskan melalu beberapa ayat berikut ini.





1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka adapun rumusan masalah dalam makalah ini, adalah sebagai berikut:
1)      Mengetahui tafsir ayat-ayat tentang hubungan antar agama.
2)      Apakah hubungannya dengan pendidikan?
3)      Apakah hikmah mempelajari ayat-ayat tentang hubungan antar agama tersebut?
1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Untuk mengetahui tafsir ayat-ayat tentang hubungan antar agama.
2)      Untuk mengetahui hubungannya ayat-ayat tersebut dengan pendidikan.
3)      Untuk mengetahui hikmah mempelajari ayat-ayat tentang hubungan antar agama tersebut.








BAB II
PEMBAHASAN
     Dalam pembahasan ayat-ayat tentang hubungan antar agama, terdapat di dalam beberapa ayat Al-Quran, sebagai berikut :

2.1   Ayat dan Terjemahan
A.    Q.S. Al-Mumtahanah Ayat 7-9
* Ó|¤tã ª!$# br& Ÿ@yèøgs ö/ä3oY÷t/ tû÷üt/ur tûïÏ%©!$# NçF÷ƒyŠ$tã Nåk÷]ÏiB Zo¨Šuq¨B 4 ª!$#ur ֍ƒÏs% 4 ª!$#ur Öqàÿxî ×LìÏm§ ÇÐÈ   žw â/ä38yg÷Ytƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNs9 öNä.qè=ÏG»s)ムÎû ÈûïÏd9$# óOs9ur /ä.qã_̍øƒä `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ br& óOèdrŽy9s? (#þqäÜÅ¡ø)è?ur öNÍköŽs9Î) 4 ¨bÎ) ©!$# =Ïtä tûüÏÜÅ¡ø)ßJø9$# ÇÑÈ   $yJ¯RÎ) ãNä39pk÷]tƒ ª!$# Ç`tã tûïÏ%©!$# öNä.qè=tG»s% Îû ÈûïÏd9$# Oà2qã_t÷zr&ur `ÏiB öNä.̍»tƒÏŠ (#rãyg»sßur #n?tã öNä3Å_#t÷zÎ) br& öNèdöq©9uqs? 4 `tBur öNçl°;uqtFtƒ šÍ´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqßJÎ=»©à9$# ÇÒÈ  

Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. dan Allah adalah Maha Kuasa. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang(7).
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil(8).
Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim(9).






B.     Q.S. Al-Baqarah Ayat 120 dan Ayat 213

`s9ur 4ÓyÌös? y7Ytã ߊqåkuŽø9$# Ÿwur 3t»|Á¨Y9$# 4Ó®Lym yìÎ6®Ks? öNåktJ¯=ÏB 3 ö@è% žcÎ) yèd «!$# uqèd 3yçlù;$# 3 ÈûÈõs9ur |M÷èt7¨?$# Nèduä!#uq÷dr& y÷èt/ Ï%©!$# x8uä!%y` z`ÏB ÉOù=Ïèø9$#   $tB y7s9 z`ÏB «!$# `ÏB <cÍ<ur Ÿwur AŽÅÁtR ÇÊËÉÈ  
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu(120).
tb%x. â¨$¨Z9$# Zp¨Bé& ZoyÏnºur y]yèt7sù ª!$# z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# šúï̍Ïe±u;ãB tûïÍÉYãBur tAtRr&ur ãNßgyètB |=»tGÅ3ø9$# Èd,ysø9$$Î/ zNä3ósuŠÏ9 tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# $yJŠÏù (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù 4 $tBur y#n=tG÷z$# ÏmŠÏù žwÎ) tûïÏ%©!$# çnqè?ré& .`ÏB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# $JŠøót/ óOßgoY÷t/ ( yygsù ª!$# šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä $yJÏ9 (#qàÿn=tF÷z$# ÏmŠÏù z`ÏB Èd,ysø9$# ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ 3 ª!$#ur Ïôgtƒ `tB âä!$t±o 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ ?LìÉ)tGó¡B ÇËÊÌÈ  
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus(213).
C.    Q.S. Al-Kaafiruun Ayat 1-6

ö@è% $pkšr'¯»tƒ šcrãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ   Iw ßç6ôãr& $tB tbrßç7÷ès? ÇËÈ   Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç7ôãr& ÇÌÈ   Iwur O$tRr& ÓÎ/%tæ $¨B ÷Lnt6tã ÇÍÈ   Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç6ôãr& ÇÎÈ   ö/ä3s9 ö/ä3ãYƒÏŠ uÍ<ur ÈûïÏŠ ÇÏÈ  
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku"(1-6).

2.2   Tafsir Mufradat
والله قدير = Atau yang mempunyai kemampuan tak ada sesuatu apapun  yang dapat melemahkannya.       
والله غفوررحيم = Zat yang mempunuyai kelebihan dalam pengampunan dan rahmat bagi siapapun yang bertaubat padanya.
وتقسطوا إليهم  = berlaku adillah pada mereka
إن لله حب المقسطين = Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil disetiap urusan-urusan dari hukum mereka.
ومن يتو لهم فأوْلئك هم الظا لمون = Barang siapa yang mempercayai musuh-musuh Allah dan menjadikan mereka sebagai penolong dan mencintai mereka, maka mereka termasuk orang-orang dzalim terhadap diri mereka dan akan mendapat siksaan.[1]                                                      
قل = menunjukkan  bahwa itu adalah suatu perintah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
يا أيها الكافروب = Wahai orang-orang kafir
لآأعبد = Aku tidak menyembah
ما تعبدون = Apa-apa yang kamu sembah
عا بدون = penyembah[2]

ولن ترض عنك اليهود ولاالنصرى حتى تتبع ملتهم  = Tidak akan ridho orang-orang Yahudi dan Nasrani sampai kita meninggalkan yang terang dan mengikuti dunia mereka.
ما لك من الله من ولي ولانصير  = tidak ada bagimu orang yang menjagamu dan tak ada yang dapat menolak ataupun menjauhkan kamu dari siksaan yang pedih.[3]
2.3   Asbabun Nuzul
 Dari beberapa ayat Al-Qur`an di atas, tidak semuanya terdapat asbabun nuzul atau sebab turunnya ayat. Ayat-ayat yang memiliki asbabun nuzul sebagai berikut :
A.    Q.S. Al-mumtahanah Ayat 8
Imam Bukhari meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar yang berkata, “Suatu hari, ibu saya mengunjungi saya. Ketika itu, ia terlihat dalam kondisi cenderung (kepada islam). Saya lalu bertanya kepada Rasulullah tentang apakah saya boleh menyambung silaturahmi dengannya? Nabi SAW lalu menjawab, ‘ya, boleh’. Berkenaan dengan kejadian inilah, Allah lalu menurunkan ayat ini”.
Imam Ahmad dan al-Bazzar meriwayatkan satu riwayat, demikian juga dengan al-Hakin yang menilainya shahih, dari Abdullah ibnuz Zubair yang berkata, “Suatu ketika, Qatilah datang mengunjungi anaknya, Asma binti Abu Bakar. Abu Bakar telah menalak wanita itu pada masa jahiliah. Qatilah datang sambil membawa berbagai hadiah. Akan tetapi, Asma menolak untuk menerimanya dan bahkan tidak membolehkannya masuk ke dalam rumahnya sampai ia mengirim utusan kepada Aisyah untuk menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah. Aisyah lalu memberitahukannya kepada Rasulullah. Beliau lantas menyuruh Asma untuk menerima pemberian-pemberian ibunya tersebut serta mengizinkannya masuk ke dalam rumahnya. Allah lalu menurunkan ayat, ‘Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama . . . .’”.[4]

B.     Q.S. Al-Baqarah Ayat 120
Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu orang-orang Yahusi Madinah dan orang-orang Nasrani Najran berharap agar Rasulullah shalat menghadap ke arah kiblat mereka. Ketika Allah mengubah kiblat ke arah Ka’bah, mereka pun tidak suka dan putus asa untuk membuat beliau mengikuti agama mereka. Maka turunlah firman Allah ta`ala :
“Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu . . . .”.[5]

C.    Q.S. Al-Kafirun
Iman Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Quraisy mengiming-imingi Rasulullah dengan harta berlimpah sehingga menjadi orang terkaya di Mekah serta memberinya wanita mana saja yang beliau inginkan. Mereka berkata, “Semua ini untukmu wahai Muhammad, asalkan engkau berhenti menghina tuhan-tuhan kami dan berhenti mengucapkan kata-kata buruk terhadap mereka. Tetapi jika engkau keberatan, bagaimana apabila engkau menyembah tuhan kami selama satu tahun saja”. Mendengar tawaran orang-orang Quraisy itu, Rasulullah lalu menjawab, “Saya akan menunggu hingga Allah memberikan jawabannya”. Allah lalu menurunkan ayat, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir!.’” Dan juga menurunkan ayat:

ö@è% uŽötósùr& «!$# þÎoTÿrããBù's? ßç7ôãr& $pkšr& tbqè=Îg»pgø:$# ÇÏÍÈ  
Katakanlah (Muhammad): "Maka Apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?"(Q.S. Az-Zumar : 64).

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Wahab yang berkata, “Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah, ‘Bersediakah engkau mengikuti agama kami setahun dan kami juga akan akan mengikuti agamamu setahu?’ Allah lalu menurunkan ayat-ayat dalam surah ini secara keseluruhan.”

Ibnul Munzir meriwayatkan hal senada dari Ibnu Juraij.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Said bin Mina yang berkata, “Suatu hari, Walid ibnul-Mughirah, al-Ash bin Wa`il, al-Aswad ibnul-Muththalib, dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah, mereka lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, mari menyembah tuhan yang kami sembah dan sebagai balasannya kami juga akan menyembah Tuhan yang engkau sembah. Selanjutnya, kami juga akan mengikutsertakan engkau dalam seluruh urusan kami.’ Allah lalu menurunkan ayat ini”.
2.4   Penafsiran Ayat
 Berikut ini beberapa penafsiran dari ayat-ayat di atas tentang hubungan antar agama.
A.    Q.S. Al-Mumtahanah Ayat 7-9
Allah SWT berfirman kepada hamba-hamba-Nya yang beriman setelah menyuruh mereka memusuhi orang-orang kafir, “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka.” Yaitu, cinta setelah benci dan keterikatan hati setelah keterasingannya.
“Dan Allah adalah Mahakuasa.” Mahakuasa untuk menyatukan perkara-perkara yang saling bertentangan, sehingga Dia dapat melunakkan hati setelah sebelumnya terjadi permusuhan, lalu semua itu menjadi bersatu. Sebagaimana firman Allah ketika memberikan kenikmatan kepada orang-orang Anshar. “Dan ingatlah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kalian, ketika kamu semua saling bermusuhan, lalu Allah melunakkan hati-hati kamu, sehingga dengan nikmat itu kamu semua menjadi bersaudara.”
Selanjutnya Allah berfirman, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Yaitu, Allah akan memberikan ampunan keoada orang-orang yang kafir bila mereka bertobat kepada Tuhan mereka dan tunduk kepada-Nya.[6]
B.     Q.S. Al-Baqarah Ayat 120 dan Ayat 213
1.      Q.S. Al-Baqarah ayat 120
Allah mengambarkan kepada rasulnya, bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka, karena mereka adalah penyeru-penyeru kepada agama yang mereka anut yang mereka anggap sebagai petunjuk, maka katakanlah kepada mereka “sesungguhnya petunjuk Allah” yang kamu diutus dengannya, “itulah petunjuk (yang benar)”, sedangkan apa yang kalian anut adalah hawa nafsu belaka dengan dalil firman Allah, “dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”, dalam ayat ini ada sebuah halangan yang keras untuk mengikuti hawa nafsu orang-orang Yahudi dan Nasrani dan larangan yang menyerupai mereka dalam perkara yang menjadi kekhususan agama mereka.
Perkataan ini walaupun ditunjukkan kepada Rasulullah, namun umat beliau juga termasuk didalamnya, karena yang dijadikan pedoman adalah keumuman lafazh dan bukan kekhususan sebabnya.[7]

2.      Q.S. Al-Baqarah Ayat 213
Maksudnya, mereka bersatu diatas  petunjuk, kondisi ini selama sepuluh abad setelah nabi Nuh as., dan ketika mereka berselisih dalam perkara agama, lalu sekelompok dari mereka kafir, sedankan sisanya masih tetap diatas petunjuk dan terjadi perselisihan, maka Allah mengutus kembali Rasul-rasulNya untuk melerai antara manusia dan menyatakan hujjah atas mereka.
Pendapat lain mengatakan, akan tetapi mereka maksudnya, dahulu manusia bersatu diatas kekufuran, kesesatan dan kesengsaraan, mereka tidak memiliki cahaya dan tidak pula keimanan, hingga Allah merahmati mereka dengan mengutus para Rasul kepada mereka “sebagai pemberi kabar gembira” dengan orang-orang yang taat kepada Allah dengan hasil ketaatan mereka seperti rizki, kekuatan  tubuh, kekuatan hati, serta kehidupan yang baik, dan yang paling tinggi dari semua itu adalah kemenangan dengan keridhaan Allah dan surga, “juga pemberi peringatan” bagi orang yang bermaksiat kepada Allah dengan hasil kemaksiatan mereka, seperti menahan rizki untuk mereka, kelemahan, kehinaan, serta kehidupan yang sempit, dan yang paling besar dari semua itu adalah kemurkaan Allah dan neraka. Allah menurunkan kitab-kitab kepada mereka dengan kebenaran, yang isinya adalah berita-berita benar dan perintah-perintah yang adil.
Segala yang mencakup yang mencakup dalam kitab-kitab itu adalah suatu kebenaran yang membedakan antara orang-orang yang berselisih dalam pokok-pokok maupun cabang-cabang, inilah yang wajib dilakukan ketika terjadi perselisihan dan perdebatan yang mengembalikan perselisihan itu kepada Allah dan RasulNya. Sekiranya tidak ada didalam kitabullah dan sunnah RasulNya suatu hal yang mampu melerai perselisihan, niscaya tidak akan diperintahkan untuk kembali keduanya, dan ketika Allah menyebutkan nikmatNya yang besar dengan menurunkan kitab kepada ahli kitab, dimana hal ini mengharuskan kesepakatan mereka dengannya dan persatuan mereka, lalu Allah SWT., menggambarkan bahwa sebagian mereka telah berlaku zalim terhadap sebagian yang lain, hingga terjadi pertentangan, perselisihan dan banyak perseteruan, mereka berselisih terhadap kita itu yang sepatutnya mereka adalah orang yang paling pertama bersatu padanya.
Hal itu setelah mereka mengetahuinya dan menyakininya dengan adanya tanda-tanda yang jelas dan dalil-dalil yang kuat, lalu mereka tersesat karenanya dengan kesesatan yang jauh, dan Allah memberikan hidayah-Nya kepada “orang-orang yang beriman”, dari umat ini, “kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu” setiap perkara yang diperselisihkan oleh ahli Kitab dan mereka menyalahi yang haq dan yang benar padanya, makan Allah memberikan hidayah untuk umat ini kepada kebenaran padanya, dengan kehendak-Nya” dan memudahkan serta merahmati mereka.
“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”, seruan kepada jalan yang lurus itu mencakup seluruh manusia sebagai keadilan dari-Nya dan penegakan hujjah atas manusia agar mereka tidak berkata bahwa tidak ada pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan yang diutus kepada kami, dan Allah memberikan hidayah dengan anugerah, rahmat, bantuan dan kasih sayang-Nya dari hamba-hamb-Nya, inilah anugerah dan kebajikan-Nya, sedangkan yang lainnya adalah keadilan dan kebijaksanaan Allah.[8]   

3.      Q.S. Al-Kafirun Ayat 1-5
Surah ini adalah surah pembebasan diri orang beriman dari perbuatan orang-orang musyrik dan surah yang memerintahkan orang beriman untuk membebaskan diri dari perbuatan orang-orang kafir.
ö@è% $pkšr'¯»tƒ šcrãÏÿ»x6ø9$# ÇÊÈ    
(katakanlah, hai orang-orang kafir), itu mencakup seluruh orang-orang kafir Quraisy. Ada yang menyebutkan: karena kebodohan mereka untuk mengajak Rasulullah SAW untuk beribadah kepada berhala mereka selama setahun, sedangkan mereka Tuhan Muhammad SAW selama setahun pula, maka Allah SWT menurunkan surah ini. dalam surah ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk membebaskan diri dari agama mereka secara menyeluruh.
Iw ßç6ôãr& $tB tbrßç7÷ès? ÇËÈ  
(Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah), yaitu berupa patungpatung dan berhala-berhala.
Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç7ôãr& ÇÌÈ  
                        (Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah). Maksudnya, yaitu Allah Yang Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu. Kata maa (apa) disini man (siapa).
Iwur O$tRr& ÓÎ/%tæ $¨B ÷Lnt6tã ÇÍÈ
                        (Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah). Maksudnya, Nabi SAW tidak akan mengikuti sembahan mereka (orang kafir), melainkan akan tetap menyembah Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhai.
Iwur óOçFRr& tbrßÎ7»tã !$tB ßç6ôãr& ÇÎÈ  
                        (Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah). Maksudnya, orang kafir tidak melaksanakan perintah Allah dan apapun yang telah Allah syari’atkan, yaitu dalam menyembah Allah.[9]

2.5   Hubungannya dengan Pendidikan
Dari penafsiran ayat diatas, jika ditinjau dari aspek pendidikan, bahwasanya menganut suatu keyakinan terhadap adanya suatu kekuasaan yang tak terbatas yang mengusai segala sesuatu yang selanjutnya disebut sebagai perasaan naluri beragama merupakan fitrah setiap manusia yang merupakan bagian pertama yang harus menjadi komitmen manusia.
Dilihat dari ajaran dasarnya, bahwa setiap agama ternyata membawa ajaran kemanusiaan dan kedamaian yang dapat digunakan sebagai  dasar untuk membangun kerukunan diantara agama-agama tersebut. Penafsiran ayat-ayat hubungan antar agama memiliki nilai kependidikan yaitu manusia merupakan mahluk sosial yang memiliki naluri untuk beragama sesuai dengan fitrahnya. Mereka harus saling topang-menopang kecuali dalam pesoalan akidah demi mencapai kebahagian dan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat. [10]
Dalam rangka membangun kerukunan antarumat bergama ini, pendidikan akhlak dan nilai-nilai moral sangat penting ditanamkan kepada setiap orang. Meskipun berbeda agama, tetapi setiap manusia memiliki persamaan, yaitu mereka sama-sama keturunan Nabi Adam. Untuk itu, jika suatu ketika ada orang yang terkena musibah, maka harus segera dibantu, tanpa mempertanyakan agama yang dianutnya. Hal demikian dilakukan karena musibah yang terjadi bukanlah persoalan agama atau keyakinan, tetapi persoalan kemanusiaan.
Dalam Alquran, persoalan kemanusiaan ini termasuk hal yang diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian itulah, kerukunan beragama akan tercapai didalam kehidupan berbangsa dan bernegara.[11]
2.6   Hikmah
Hikmah mempelajari tafsir ayat-ayat hubungan antar agama diatas, dapat dirincikan sebagai berikut:
1.      Islam tidak melarang umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada orang-orang kafir yang hidup sebagai rakyat negara Islam dengan jaminan perlindungan dari negara atau orang-orang kafir yang hidup sebagaii rakyat negara kafir, tetapi mempunyai perjanjian dengan negara Islam.
2.      Allah memberikan dispensasi kepada kaum mu’min untuk melakuka hubungan mu’amalah dengan kaum kufar yang tidak memusuhi dan memerangi mereka.
3.      Orang mu’min diwajibkan untuk berlaku adil kepada kaum kufar, yaitu dengan cara memelihara dan menjamin hak, kehormatan, kemuliaan dan harta serta kebolehan bergaul dengan mereka, meskipun tetap tidak menjadikan mereka sebagai teman setia. Sebaliknya berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang kafir yang menyerang dan memerangi kaum muslimin dan agmanya jelas dilarang.
4.      Secara umum Islam memberikan pengakuan terhadap realita keberadaan agama-agama lain dan penganut-penganutnya.
5.      Islam memberikan ketegasan sikap ideologis berupa penolakan total terhadap setiap bentuk kesyirikan aqidah, ritual ibadah ataupun hukum, yang terdapat didalam agama-agama lain
6.      Tidak ada boleh ada pencampuran antara Islam dan agama-agama lain dalam bidang-bidang akidah, ritual ibadah dan hukum.[12]








BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Semua agama mengajarkan kasih sayang, cinta, kedamaian, kebajikan, persaudaraan dan sejumlah nilai-nilai kemanusiaan secara normative dan ideal.
Semoga Allah menjadikan diantara manusia dengan musuh-musuhnya rasa kasih sayang setelah kebencian, rasa cinta setelah permusuhan dan percekcokan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, sehingga Dia dapat mempersatukan hati-hati yang bermusuhan, Allah Maha Pengampun terhadap orang-orang yang bertaubat dari kesalahan.
Berdasarkan ayat-ayat diatas, dapat diketahui bahwa agama Islam bukanlah faktor yang menjadi penghambat dalam membina hubungan antar pemeluk agama. Islam telah menawarkan konsep tolenransi yang sangat rasional. Namun dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat Islam tidak mengenal kata kompromi.
Alquran telah meletakkan ajaran tentang kerukunan hidup antar umat beragama secara adil dan proporsional. Allah tidak melarang umat muslim untuk berlaku baik dan adil terhadap setiap orang termasuk kepada non muslim. Oleh karena itu, sudah seharusnya setiap orang menanakan sikap tolenransi dan sikap saling tolong-menolong antar umat beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3.2  Saran
Kepada para pembaca, penulis menyadari banyaknya kekurangan dari penulisan makalah ini, oleh karena itu disarankan kepada seluruh pembaca, supaya mencari dan dan membaca referensi-referensi lain yang terkait dengan materi yang berkaitan dengan tafsir ayat-ayat hubungan antar agama.













DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 2002.   
http://amir-sadewata.blogspot.com/2012/01/makalah-tafsir.html?m=1
http://lissyah.blogspot.com/2012/03/ayat-tentang-hubungan-antar-agama.html?m=1
http://majelispenulis.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-tentang-hubungan-antar-agama.html?m=1
Ibnu Katsir, Tafsir Juz ‘Amma, (Jakarta: Pustaka Azzam), 2007.
Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani), 2008.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, (Jakarta: Pustaka Sahifa), 2007.



[1] http://lissyah.blogspot.com/2012/03/ayat-tentang-hubungan-antar-agama.html?m=1
[2] http://majelispenulis.blogspot.com/2011/05/ayat-ayat-tentang-hubungan-antar-agama.html?m=1
[3] http://lissyah.blogspot.com/2012/03/ayat-tentang-hubungan-antar-agama.html?m=1
[4] Jalaluddin As-Suyuthi, Sebab Turunnya ayat Al-Qur’an, (Jakarta: Gema Insani), 2008, h. 566.
[5] Ibid., h. 53.
[6] Ibid., hh.645-646.

[7] Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, (Jakarta: Pustaka Sahifa), 2007, hh. 188-189.

[8] Ibid., hh.336-338.
[9] Ibnu Katsir, Tafsir Juz ‘Amma, (Jakarta: Pustaka Azzam), 2007, h. 376.
[10] Abuddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada), 2002, h. 210.

[11] Ibid., hh.228-229.
[12] http://amir-sadewata.blogspot.com/2012/01/makalah-tafsir.html?m=1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar